Idealnya setiap manusia
punya berbagai sudut pandang sesuai dengan perannya di dunia. Bagi seorang
(poli)tikus parlemen, ia memandang dunia dari sudut pandang kekuasaan lengkap
dengan cara mempertahankannya. Tak ada yang lebih penting dari itu. Apalagi,
kapitalisme “mengajarkan” pada pengikutnya untuk menghalalkan segala cara agar
mencapai tujuan. Yang penting saya senang. Yg penting saya menang. Politikus
parlemen haus kekuasaan, bisa dipastikan itu! Cek aja!
Bagi wong cilik, dunia
begitu menyesakkan. Sesak hingga ke hulu dada mereka. Pikiran utama di setiap
paragraph hidup mereka hanyalah sebatas; “besok keluarga kami makan apa?”
Sesimple itu. Berjumpa nasi, syukurlah. Ditambah dengan lauk seadanya, atau
menu sisa kemarin, itu sudah cukup. Jangankan kebutuhan tersier, yang
sekunder-pun terkadang harus mengalah dengan kebutuhan lainnya. Pernahkah kita
berpikir sejauh itu? Atau sejenak menyelami bagaimana jika tiba-tiba ada reality show tukar nasib yg mendatangi
kita, lalu meminta kita menjadi pemulung atau tukang parkir pertigaan jalan
atau tukang odong-odong, atau apalah? Rasakan sensasinya.. walau Cuma
berandai-andai..
Realita remaja tidaklah
demikian, terlalu kolot dirasa, jika mereka memikirkan hal-hal tentang hidup.
Iyalah. Testosteron dan progesterone mereka baru saja berfungsi. Untuk remaja
seusia mereka, dunia ialah senang-senang. Bodo amat besok ada apa. Peduli setan
siapa presiden tahun depan. Remaja ialah sosok pencari jati diri, dimana hal
paling urgent dalam hidup mereka adalah: “GW” dua huruf andalan jika ditanya
“siapa yg paling utama dapat nyaman di situasi genting?” Benarkah demikian?
Saya kira bisa langsung ditanya sama sosok remaja terdekat.
Lalu, apakah lantas bisa
kita pukul rata semua fakta yang ada? Bukankah tiap kepala beda-beda? Tiap golongan
berbeda, walau mereka terkategori sama. Namun, dunia sepakat bahwa prosentase
orang baik menurun, sisanya berupa kumpulan orang-orang mengagungkan materi. Masih
adakah kebaikan murni di antara hati yang tak peduli?
Perkenalkan, peran pamungkas
yang akan dikenalkan di tulisan ini. Adalah seorang pengemban dakwah atau
kerennya ‘hamiluddakwah’. Merekalah orang-orang ikhlas tak harap balas. Hanya
Allah yang mereka harap dengan sebaik-baiknya pembalasan. Dunia mereka pandang
rendah, karena tak ada yang lebih agung dibandingkan Jannah. Tangis dan do’a menghiasi di setiap sujud panjang mereka. Tak
ada persoalan dunia yang mereka pandang berat, karena masalah terberat dalam
hidup mereka hanyalah ummat. Mengapa banyak yang tinggal di pinggir rel kereta
ketika pembangunan gedung-gedung mewah garapan Podomoro Group mengacak-ngacak Jakarta?
Mengapa masih ada yang mau cari jalan haram, ketika yang halal disediakan Allah
bagi orang yang sabar dan mau berusaha? Apa yang menjadikan umat sebegini
bodohnya? Sebegitu jauh mundurnya? Apa? Mengapa? Bagaimana? Aahh.. saya rasa dunia
butuh orang macam mereka. Jadilah seperti mereka lalu idealkan dunia.. ya..
bersama-sama..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar