Love Rain is my
middle name. Yeah! Kalo kata orang Korea na neun sarang-bi. Hujan itu selalu
menyenangkan. Dingin. Teduh. Syahdu. Pas kecil doyan banget berenang di
genangan, bawa-bawa payung Hello Kity, pake sepatu boat punya si Uppa. Sejam..
Dua jam.. Mama teriak dari dalem rumah mungil kami. “Lyaaa!!! Udahan!! Nanti
sakit!” Tiga jam.. Empat jam.. Sampe ujannya berhenti, mama nyusul bawa sapu
lidi.
Haha.. I still love
rain anyway..
Karena hujan sempat
melukiskan kisah indah saat sekolah. Indah banget! Karena tiap hujan deras,
sekolah diliburkan. Kami yang terlanjur datang, menghabiskan waktu dengan
bercengkrama, nyanyi westlife sama Zie, maen hoax kungfu pake kamera Aphet, si
Bang Adi jadi aktornya (aktingmu kaku, bang!), yang paling seru, shooting kuntilanak dalam masjid sama
Vivit. Ah.. Aku kangen sama kalian semua. Mungkin kalian sudah mengganti memori
itu dengan yang lain.
Hujanpun pernah
menahan seseorang bersamaku. Di angkot ajaib itu dengan jas hujan yang nggak
anti-air. Tak berhenti tertawa jika mengingat hal itu. Sore itu tergelak
bersama, ‘kita disangka adik-kakak’? “wajah kalian mirip! Adik kakak atau
pacaran?” ha.. Hal bodoh di masa itu tak akan terulang. Karena Allah hanya
memberikanku merasakan hal itu sekali saja.
Pokoknya, hujan
indah.
Tapi.. hari ini..
Rasa hujan jadi pahit! Tahun ini ku isi musim hujan dengan ngedumel di jalan.
Terjebak macet total belasan kilometer. Basah kuyup. Si White Beat ngadat di
tengah jalan. Putar balik ke jalan tikus, sama saja padatnya. Bah! Apa ini?
Jalan tikus aja padet gini!
Sejenak aku merenung..
Baru hujan sehari semalam, dunia sebegini hebohnya, macam adegan War of the World nya Tom Cruise.
Bagaimana hari
dahsyat nanti? Mau lari ke jalan tikus juga?
.jpg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar